SITOMEGALOVIRUS

Mei 14, 2008

Lydia Valentina Guru

Mahasiswi Farmasi USD Yogyakarta

kelas B (078114087)

Infeksi Sitomegalovirus adalah suatu penyakit virus yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian pada bayi baru lahir. Bisadi dapat sebelum lahir atau setelah lahir. Infeksi sitomegalovirus bisa terjadi pada orang yang menerima darah terinfeksi atau jaringan cangkokan yang terinfeksi, misalnya ginjal. Sekitar 60-90% orang dewasa mengalami infeksi sitomegalovirus, Infeksi serius biasanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan, misalnya penerima cangkok sumsum tulang atau penderita AIDS.
Sitomegalovirus yang terjadi pada bayi jika virus dari ibu yang terinfeksi menular kepada janin yang dikandungnya melalui plasenta (ari-ari).

Klasifikasi sitomegalovirus

Famili : herpes viridae

Subfamily : Betaherpesvirinae

Genus : Sitomegalovirus

ke-sitomegalovirus (KLIK UNTUK TAHU LEBIH LANJUT TENTANG SITOMEGALOVIRUS)

Respiratory syncytial virus (RSV)

SARS, APAKAH ITU ????
Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau Corona Virus Pneumonia (CVP), yaitu kasus suspek (suspect case) yaitu seseorang menderita sakit gangguan pernapasan, yaitu batuk, napas pendek, dan kesulitan bernafas.
Penyebab SARS  adalah strain virus baru Coronavirus, keluarga virus yang bersifat menular yang biasanya menyerang saluran pernafasan atas dan menyebabkan common cold.
Peneliti di Hongkong mengusulkan nama baru untuk penyakit yang mematikan itu Coronavirus pneumonia atau disingkat CVP. Hingga kini belum diketahui darimana virus tersebut berasal akan tetapi kemungkinan merupakan mutasi virus yang sebelumnya terdapat pada binatang. Pada beberapa kasus, peneliti menemukan paramyxorvirus akan tetapi kemudian peneliti berkesimpulan bahwa paramyxovirus hanya berperan sekunder dan mungkin merupakan infeksi oportunistik.
Sudah ada test yang dapat digunakan yaitu test DNA sequencing bagi Coronavirus yang dapat diperoleh hasilnya dalam 8 jam dan sangat akurat. Test yang lama hanya mampu mendeteksi antibodi.

Cara penularan :WHO menyatakan bahwa kontak erat dengan penderita SARS/CVP diperlukan agar virus dapat menular ke orang lain. Kontak dengan percikan cairan tubuh pasien yang keluar pada waktu batuk dan bersin adalah penting.
Jumlah virus agar infeksi menyebabkan penularan penyakit belum dapat ditetapkan. Ilmuwan Universitas Hongkong menyatakan bahwa coronavirus hanya dapat hidup di luar tubuh dalam beberapa jam saja. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa penularan dapat saja terjadi melalui kontak sentuhan pada waktu menekan tombol lift atau memegang pegangan pintu atau handrails (pada tangga) yang telah tercemar virus.

Gejala :Biasanya dimulai dengan demam 100, 4 derajat Fahrenheit atau 38 derajat Celcius. Demam kadang-kadang disertai menggigil, sakit kepala dan perasaan lesu, serta nyeri tubuh. Pada awal penyakit mungkin terjadi gangguan pernafasan ringan. Setelah tiga sampai tujuh hari, penderita mungkin mengalami batuk kering tidak berdahak yang lama kelamaan menimbulkan kekurangan oksigen dalam darah. 10 – 20 % penderita memerlukan nafas bantuan mengunakan alat bantu nafas (ventilator).
Waktu  inkubasi berkisar 2-7 hari. Akan tetapi ada laporan yang menunjukkan waktu inkubasi 3-10 hari. Saat yang paling berbahaya untuk menularkan virus adalah saat awal terjadinya kesulitan pasien  dalam bernafas.
Menurut WHO lebih lambat dari pada campak, gondong dan influenza. Akan tetapi banyaknya penerbangan internasional sangat mempermudah peyebaran penyakit ini ke seluruh dunia.
Penyakit ini belum ada vaksin untuk pencegahannya, namun perlu Kewaspadaan yang harus diketahui dan dilakukan masyarakat
– Hindari tempat yang padat kerumunan orang, apabila tidak perlu, hindari kunjungan ke rumah sakit, dan hindari penderita dengan gejala pneumonia.
– Cuci tangan sesering mungkin, lebih baik dengan alkohol 70% yang biasa digunakan dokter/perawat untuk membersihkan kulit sebelum menyuntik.
– Hindari menyentuh mulut, mata, hidung dengan tangan yang kotor.
– Gunakan masker apabila menderita batuk/pilek agar tidak menular ke orang lain.
– Sebagian besar infeksi terjadi di rumah sakit, infeksi di jalan jauh lebih kecil.
– Untuk petugas kesehatan gunakan masker apabila merawat penderita pneumonia.
– Terapkan kewaspadaan universal di sarana kesehatan
Sejauh ini belum ada pengobatan yang manjur untuk SARS/CVP. Anti virus (Ribavirin) maupun steroid masih diragukan manfaatnya. Namun menurut pejabat kesehatan di Hongkong kombinasi Ribavirin dan steroid meringankan penyakit pada 80% penderita SAR/CVP.
 

Alphavirus penyebab Chikungunya

A. Definisi

Chikungunya merupakan sejenis penyakit atau sejenis demam virus yang disebabkan oleh alphavirus dari keluarga Togaviridae. Penyakit ini disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nama penyakit yang disebut chikungunya berasal dari bahasa Makonde yang artinya melengkung ke atas. Maksudnya adalah merujuk pada tubuh yang membungkuk karena gejala arthritis penyakit ini.

 

B. Gejala

Gejala penyakit ini sangat mirip dengan Demam berdarah. Hanya saja kalau chikungunya akan membuat semua persendian terasa ngilu. Penyakit ini memang belum begitu dikenal tapi yang menguntungkan adalah penyakit ini tidak mematikan.

Seperti diketahui sebelumnya penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang juga merupakan penyebar penyakit DBD. Bedaya adalah pada virus DBD akan ada produksi racun yang menyerang pembuluh darah dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada virus penyebab chikungunya akan memproduksi virus yang menyerang tulang kaki.

Demam dari penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39 derajat C, menggigil, sakit kepala, sakit perut disertai nyeri sendi dan otot, disusul dengan bintik-bintik merah (ruam)di sekujur tubuh, terutama badan dan lengan. Kadang-kadang penderita mual dan muntah-muntah. Yang membedakan dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Terkadang disertai juga sakit kepala, conjunctival injection dan sedikit fotofobia.

Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi tidak terlalu nyata dan berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi. Tetapi pada bayi dan anak kecil timbul:

· kemerahan pada wajah dan munculnya ruam kemerahan dalam bentuk papel-papel (maculopapular) atau erupsi seperti biduran (urtikaria)

· Rasa linu di persendian tangan dan kaki serta pergelangan lutut.

· Demam tinggi yang disertai muntah-muntah, menggigil, sakit kepala, sakit perut serta bintik merah pada kulit seperti penderita demam berdarah.

· Mimisan bisa terjadi pada pasien anak-anak.

 

C. Pencegahan

Dalam upaya melakukan pencegahan terhadap penyebaran penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menghentikan siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Cara sederhana yang sering dilakukan masyarakat misalnya:

- Menguras bak mandi

- Menutup tempat penyimpanan air

- Mengubur sampah

- Menaburkan larvasida

-Memelihara ikan pemakan jentik

- Pengasapan

- Pemakaian anti nyamuk

-Pemasangan kawat kasa di rumah

Tidak terdapat sebarang rawatan khusus bagai Chikungunya. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri sendiri dan akan sembuh sendiri. Perawatan berdasarkan gejala disarankan setelah mengetepikan penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya.

Selain itu perlu kewaspadaan misalnya ada anggota keluarga yang merasa pegal dan linu disertai demam dan sedikit pusing. Tarik sedikit untuk memastikan timbulnya bercak atau bintik merah pada kulit. Jika benar-benar timbul bercak segera periksa darah yaitu kadar trombosit untuk memastikan anggota keluarga teserang DBD atau chikungunya.

 

D. Cara Penularan

Penyebaran virus terjadi melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dengan masa inkubasi 1 – 12 hari.

 

E. Pengobatan

Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk chikungunya. Umumnya pengobatan bersifat simtomatis. Penderita akan diberi obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Dianjurkan banyak beristirahat dan banyak minum serta mengonsumsi menu makanan bergizi. Tubuh perlu dijaga tetap prima sampai masa inkubasi virus berakhir. Vitamin bisa digunakan untuk menambah daya tahan tubuh.Untuk membedakan dengan penyakit demam berdarah, dapat dilakukan tes serologi.

Usahakan tetap berbaring di tempat tidur dan lakukan aktivitas yang sifatnya ringan, agar rasa nyeri di persendian tidak makin parah. Bila ada anggota keluarga yang terserang, segera ungsikan anak-anak agar terhindar dari penyebaran virus yang cepat. Selain itu siapkan mental untuk menghadapi nyeri selama berbulan-bulan. Nyeri sulit dihilangkan, meski gejala yang menyertai demam chikungunya telah hilang tuntas.

Penyakit ini memang tidak mematikan, namun mengingat gejalanya yang sangat mirip dengan demam berdarah maka sebaiknya penderita dianjurkan tetap pergi ke dokter.

 

F. PENANGGULANGAN

Kegaiatan penggulangan yang dapat dilakukan antara lain:

  • pengobatan penderita
  • penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan jentik
  • pengambilan dan pengiriman sampel serum penderita
  • pemberantasan sarang nyamuk (3M, larvasiding, ikanisasi)
  • fogging (bila diperlukan)
  • penyuluhan kesehatan serta kerjasama lintas program dan sektor.

 

http://www.info-sehat.com/content.php

http://www.iptek.net.id/ind

http://www.wikipedia.com

 

 

Oleh :

Thomas Anggun Dian P. (068114130)

Prasetya Jati (068114144)

 

Campak Jerman ( VIRUS RUBELLA)

Klasifikasi virus Rubela : anggota famili Togaviridae, adalah anggota satu-satunya genus Rubivirus.
Rubella adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus (rubella),
dikenal juga dengan nama German measles atau campak Jerman atau campak tiga hari. Rubella adalah penyakit demam akut yang ditandai dengan ruam dan limfadenopati suboksipital dan aurikuler posterior yang mengenai anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini merupakan yang paling ringan diantara eksantema virus yang lazim. Namun, infeksi selama kehamilan dini dapat menimbulkan kelainan janin yang serius.
Paogenesis dan Patologi: infeksi terjadi melalui mukosa saluran pencernaan bagian atas. Replikasi virus mula-mula mungkin terjadi dalam saluran pernapasan, diikuti dengan perkembangbiakan daalm kelenjar getah bening servikal. Viremia timbul setelah 5-7 hari dan berlangsung hingga timbul antibodi pada sekiar hari ke-13 hingga ke-15. timbulnya antibodi berbarengan dengan timbulnya ruam. Setelah timbul ruam, virus hanya dapat tetap dideteksi dalam nesofaring.
Gambaran klinik dari penyaki ini yaitu: demam 3-4 hari tidak turun-turun, flu-like syndrome, alias sindroma mirip sakit influenza, seperti keluar ingus, batuk, iritasi atau radang tenggorokan, mata merah, lalu keluar bintik-bintik merah yang disebabkan virus rubella. Sementara rubella, bintik merahnya lebih seperti pulau-pulau kecil, dengan ukuran mencapai 1-2 milimeter besar bintiknya. Namun bentuknya tidak menyambung seperti bintik merah pada campak biasa.
Virus rubella cenderung menyerang anak-anak yang masih mengalami tumbuh kembang, mulai bayi usia 1 hari, bahkan yang masih dalam dikandungan ibunya, sampai 15 tahun. Usia tumbuh kembang merupakan masa rentan terkena berbagai virus, termasuk rubella. Orang dewasa juga bisa terkena virus ini. “Tapi, orang dewasa yang tekena adalah mereka terlambat tumbuh kembangnya. Itu termasuk aneh, karena sebenarnya rubella merupakan penyakit anak.”
Antibodi Rubela tampak dalam serum pesien ketika ruam menghilang, dan titer antibodi meningkay dengan cepat dalam 1-3 minggu berikutnya. Sebagian besar antibodi permulaan terdiri dari antibodi IgM, yang umumnya tidak menetap di luar 6 minggu setelah sakit. Antibodi IgM rubela yang ditemukan dalam contoh serum tunggal yang diperoleh 2 minggu setelah ruam memberikan bukti adanya infeksi rubela yang baru. Antibodi IgM rubela biasanya menetap seumur hidup. Satu serangan penyakit ini memberikan imunitas seumur hidup, karena hanya terdapat satu tipe antigenik dari virus ini. Adanya riwayat rubela bukan merupakan petunjuk yang meyakinkan untuk imunitas, Ibu yang imun memindahkan antibodi kepada keturunannya, yang kemudian terlindung selam 4-6 bulan.
Epidemiologi: rubela menyebar secara luas di seluruh dunia. Infeksi terjadi sepanjang tahun dengan kejadian puncak pada musim semi. Epidemi terjadi setiap 6-10 tahun, dengan ledakan pandemik setiap 20-25 tahun.
Pengobatan: rubela merupakan penyakit ringan yang dapat sembuh sendiri dan tidak memerlukan pengobatan spesifik. Rubela yang dibuktikan secara leboratorium pada 3-4 bilan pertama kehamilan umumnya berkaitan dengan infeksi janin; abortus terapeutik merupakan satu-satunya cara untuk menghindari resiko malformasi bayi pada kasus seperti ini. Globulin imun USP yang disuntikkan pada ibu tidak melindungi janin terhadap infeksi rubela, karena biasanya tidak diberikan cukup dini untuk mencegah viremia. Namun, pada kasus dimana infeksi terjadi pada awal kehamilan dan tidak dilakukan pengakhiran kehamilan, sebaiknya diberikan globulin imun walaupun harapan akan keberhasilan tipis.
Virus rubela hidup yang dilemahkan telah ada sejak tahun 1969. yang asli (HPV77) diolah dalam sel embrio bebek; pada tahun 1979 vaksin ini diganti dengan vaksin kedua, RA27/3, yang ditumbuhkan kepada sel diploid manusia. Vaksin ini menghasilkan titer antibodi yang jauh lebih tinggi dan imunitas yang lebih bertahan dan lebih kuay daripada HPV77. vaksin ini dapat juga menghasilkan antibodi IgA dalam saluran pernapasan dan dengan demikian mengganggu infeksi oleh virus liar. Vaksin ini tersedia sebagai antigen tunggal atau kombinasi dengan vaksin campak dan gondongan. Vaksin ini aman dan menimbulkan sedikit efek samping pada anak-anak. Kemungkinan terdapat demam ringan, limfadenopati, dan ruam yang berlangsung singkat tetapi tidak terdapat efek residual yang menetap. Pada orang dewasa, efek samping yang sau-satunya bermakna adalah artralgia. Pada wanita setelah pubertas, vaksin ini menimbulkan artralgia dan artritis yang sembuh sendiri pada sekitar sepertiga penerima vaksin.

Gambar:

Sumber:
Jawet dkk,1996, Mikrobiologi Kedokteran, 548-549 , EGC, Jakarta
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=8947
http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0304/17/041358.htm
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0505/29/205947.htm
http://www.geocities.com/Vienna/Strasse/2994/drhendra/dh07.html
http://www.keluargasehat.com/klinika-isi.php?news_id=534

http://www.cdc.gov/nip/diseases/rubella/default.htm

oleh:
felisita A.K. (068114084)
nyoman V.L.(068114086)

HEPATITIS B ??

Mei 17, 2007

HEPATITIS B ????

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh “Virus Hepatitis B” (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Penyakit Hepatitis tidak semata-mata virus tapi bisa disebabkan karena keracunan obat.
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan:
Gejala hepatitis ringan dapat berupa :
1. selera makan hilang
2. rasa tidak enak di perut
3. mual sampai muntah
4. demam ringan
5. kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas.
6. setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning
7. kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.

Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut.
1. jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh.
2. jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif.
3. jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.

Hepatitis B yang sudah kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi.

PENULARAN

Cara penularan virus hepatitis B:
1. Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
2. Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita.

Virus hepatitis B ditularkan lewat darah, air seni, tinja, dan sekresi usus, air liur, sekresi alat kelamin pria dan wanita, air susu ibu dan cairan tubuh yang lain, juaga dapat ditularkan dengan cara kontak langsung dengan penderita.

SIKLUS VIRUS HEPATITIS B

Virus hepatitis B (VHB) masuk ke dalam sitoplasma lalu mulai melepas selubungnya. Lalu partikel inti dari VHB masuk ke dalam inti sel dan di sana terjadi transkripsi. Lalu keluar lagi ke sitoplasma dan melakukan traslasi. Setelah itu penyusunan dan pembungkusan. Terjadi pengurangan sintesis rangkaian dengan transcriptase terbalik dan penambahan sintesis rangkaian dengan DNA polimerase. Pembentukan organisme baru dengan cara memasuki seagian tubuh organisme lain. Perpindahan secara vesikular ke selaput sel dan keluar dari sitoplasma.

PENCEGAHAN

Penularan virus hepatitis B dapat dicegah dengan menjaga kebersihan lingkungan, penapisan donor darah dan mencegah perilaku seks beresiko tinggi.

PENGOBATAN

Pengobatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara oral dan injeksi.

Obat lini pertama yang digunakan untuk mengobati orang sudah terkena infeksi kronis adalah interferon, lamivudine, adefovir dipivoxil, dan entecavir.

Dwi Mayawati 068114147

Erma Putri 068114176

Linawati Buntoro 068114182

Ciuman emang nikmat. Tapi hati – hati lhow….ciuman juga bisa membawa petaka. Petaka ini disebut “kissing disease”.

Kissing disease merupakan penyakit mononucleosis, yang disebabkan oleh virus Cytomegalo. Virus Cytomegalo diketahui sekerabat dengan virus Herpes yang bersifat laten dalam tubuh manusia. Virus tersebut biasanya terdapat di kelenjar air liur, air seni, lendir leher rahim, sperma, air susu ibu, dan darah. Penularan virus itu selain lewat berciuman, dapat pula melalui transplantasi organ, donor darah, persalinan, dan juga oral seks.

Nama resmi kissing disease sebetulnya Infectious Mononucleiosis, yang hampir selalu mengintai pasangan yang doyan sekali berciuman, entah dengan siapa saja, yang penting ada bibirnya.

Pada umumnya, serangan virus itu tidak mematikan. Namun, belakangan ini dicemaskan kalau virus tersebut beredar di dalam darah, maka dapat berpotensi menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah koroner. Kehadiran kuman dan virus tertentu dapat mendorong terjadinya penyakit jantung koroner dan munculnya penyakit keletihan yang menahun (chronic fatigue syndrome).

Perpindahan air liur dari mulut sehat ke mulut sakit itulah yang ikut memindahkan virus penyebabnya. Selang beberapa hari sang pasangan tertular, dan penyakitnya pun berjangkit. Virus ini tergolong pemain lama dan sejak dulu sudah dikenal di dunia medis.
Dia juga yang kemudian disebut-sebut sebagai penyebab beberapa jenis penyakit lain bila masih beredar dalam darah penderita. Boleh disebut antara lain sebagai salah satu faktor penyebab serangan jantung koroner, selain sebagai pencetus kanker leher rahim.

Gejala kissing disease sama seperti serangan flu biasa, yaitu demam, radang tenggorokan, badan letih dan pegal. Infeksi tersebut biasanya ringan, bahkan kebanyakan orang tidak tahu kalau dirinya mengidap virus itu. Namun, pada penyakit kissing disease, hati dan limpa umumnya akan membengkak dan serangan flu tersebut berlangsung lebih lama, sampai sekitar dua minggu.

Untuk memastikan benar virus genit itu penyebabnya, perlu dilakukan pemeriksaan darah lalu dibuat kultur. Dari sana akan kedapatan virus penyebab jika benar memang itu penyakitnya Antivirus dari virus ini tidak ada, selain membiarkan pasien lebih banyak beristirahat, memulihkan sistem kekebalan tubuh agar mampu melawan virusnya.
Selain itu juga perlu dibarengi asupan menu berprotein tinggi, selain puasa berciuman dulu, dengan siapa pun, termasuk tidak mencium atau mengecup anak, dan anak kecil.
Anggapan sekadar kissing disease yang umumnya bisa menyembuh sendiri tanpa menyisakan apa-apa bila daya tahan tubuh kuat, bukan tanpa masalah. Dari beberapa temuan terungkap kalau riwayat pernah terkena penyakit akibat berciuman ini berkorelasi dengan risiko terkena kanker kelenjar getah bening.

Virus Cytomegalo, ditularkan nyaris tanpa gejala. Orang baru tahu kalau mengidap virus ini jika diperiksa darahnya. Bila virus ini diidap wanita hamil, berisiko anak di kandungannya bakal mengalami kecacatan. Karena itu, penting memeriksa adanya penyakit ini sebagai bagian dan pemeriksaan pranikah (TORCH test).

ANGEL ( 068114065 )

WULAN ( 068114072 )

 

 

 

Sumber:

http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=841

http://www.thechampa.com/news/news_detail.php?id=375〈=in

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.