C. Neoformans vs AIDS…..iya po???

Mei 15, 2007

 Kristian Bayu K 068114060

Alvonsus Rudianto 068114118

Cryptococcus neoformans

 

Cryptococcus neoformans adalah suatu ragi yang ditandai oleh adanya simpai karbohidrat yang tebal dalam biakan dan dalam cairan jaringan. Ragi ini didapatkan secara meluas di alam dan ditemukan dalam jumlah besar pada tinja burung merpati yang kering. Penyakit pada manusia biasanya berkaitan dengan fungsi imun yang tertekan atau keganasan tetapi kadang-kadang terlihat pada inang normal.
Dalam cairan spinal atau jaringan, organisme berbentuk bulat atau lonjong, garis tengahnya 4-12 μm, sering bertunas, dan dikelilingi oleh simpai yang tebal. Pada agar Sabouraud dengan suhu kamar, koloninya berwarna kecoklatan, mengkilat dan mukoi. Biakan tidak meragi karbohidrat tetapi mengasimilasi glukosa, maltosa, sukrosa dan galaktosa (tetapi laktosa tidak). Urea dihidrolisis. Berbeda dengan kriptokokus nonpatogen, C neoformans tumbuh baik pada suhu 37oC pada sebagian besar perbenihan laboratium yang tersedia, asalkan tiak mengandung skloheksimida.
Infeksi pada manusia terjadi melalui saluran pernapasan dan dapat asimtomatik atau dihubungkan dengan tanda dan gejala paru-paru nonspesifik. Penghirupan sel-sel dalam jumlah yang sangat banyak dapat menyebabkan penyakit sistemik progresif pada orang normal. Namun biasanya, kriptokokokis adalah suatu infeksi oportunistik. Pada orang yang mengalami imunodefisiensi atau imunosupresi, infeksi paru-paru dapat menyebar secara sistemik dan menetap dalam susunan saraf pusat dan organ-organ lain. Secara histologik, reaksi bervariasi dari peradangan ringan sampai pembentukan granuloma yang khas.
Infeksi C neoformans dapat tetap subklinik. Manifestasi klinik yang paling sering adalah meningitis menahun yang berkembang lambat disertai remisi spontan dan eksaserbasi berulang kali. Menigitis dapat menyerupai tumor otak, abses otak, penyakit degeneratif sistem saraf pusat, atau meningitis mikobakteria atau jamur. Tekanan dan kadar protein cairan serebrospinal dapat sangat meningkat dan jumlah sel bertambah sedangkan kadar gula normal atau rendah. Selain itu, mungkin terdapat lesi pada kulit, paru-paru, atau organ-organ lain.
Perjalanan penyakit meningitis kriptokokus dapat berfluktuasi dalam waktu yang lama, tetapi akhirnya semua kasus yang tidak diobati berakibat fatal. Penyakit ini terutama terdapat pada orang yang sistem imunnya terganggu, misalnya pasien AIDS. Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang.
Terapi kombinasi amfoterisin B dengan flusitosin diduga merupakan pengobatan pilihan untuk meningitis kriptokokus, walaupun manfaat tambahan flusitosin masih kontroversial. Flukonazol dapat memasuki cairan serebrospinal dengan baik, karena itu obat ini menjadi terapi yang lebih disukai untuk meningitis kriptokokus. Ketokonazol tidak berguna untuk pasien dengan meningitis kriptokokus. Walaupun amfoterisin B (dengan atau tanpa flusitosin) dapat meyembuhkan sebagian besar pasien dengan meningitis kriptokokus, pasien AIDS dengan kriptokokosis hampir semua mengalami kekambuhan bila amfoterisin B dihentikan. Untuk pasien AIDS, diperlukan terapi supresif jangka panjang dengan flukonazol oral.

Jawetz, Melnick dan Adelberg, 1996, Mikrobiologi Kedokteran, 629-631, Buku Kedokteran EGC, Jakarta
gambar jamur

http://www.pgodoy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: